Geohazard Connect, Upaya Kementerian ESDM Bangun Budaya Sadar Bencana Sejak Dini
Bandung - Di balik kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, tersimpan pula potensi bencana geologi yang harus dipahami dan diantisipasi bersama. Berangkat dari kondisi tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bersama Museum Geologi Badan Geologi menyelenggarakan Pameran Mitigasi Kebencanaan, Day & Night at the Museum bertema "Geohazard Connect: Bumi Bercerita, Belajar, Bermain, dan Bersiap".
Kegiatan ini mengajak masyarakat mengenal lebih dekat berbagai potensi bencana geologi sekaligus memahami pentingnya mitigasi melalui talkshow, pameran mitigasi kebencanaan, permainan edukatif, dongeng kebencanaan, hingga pertunjukan interaktif. Day & Night at the Museum merupakan agenda rutin bulanan Museum Geologi yang setiap penyelenggaraannya mengangkat tema berbeda. Pada edisi kali ini, tema kebencanaan geologi dipilih untuk memperluas literasi masyarakat sekaligus membangun budaya sadar bencana sejak dini. Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat dengan mencatatkan total 9.783 pengunjung hadir sepanjang pelaksanaan acara.
Kepala PVMBG Rita Susilowati menilai peningkatan literasi kebencanaan menjadi kunci agar masyarakat mampu hidup berdampingan dengan kondisi geologi Indonesia. Menurutnya, pemahaman mengenai karakteristik wilayah dan potensi bencana perlu terus ditanamkan sehingga masyarakat tidak hanya mengenali ancaman, tetapi juga mengetahui cara mengurangi risikonya.
"Kita berada di wilayah atau lokasi pertemuan lempeng. Ada tiga lempeng utama yang bergerak sehingga menyebabkan suatu zona yang sangat aktif. Makanya kita punya banyak gunung api, bisa ada gempa. Itu adalah sisi yang perlu kita waspadai. Tetapi sisi positifnya, kita punya kekayaan sumber daya alam yang luar biasa banyaknya," ungkap Rita saat membuka Geohazard Connect di Museum Geologi, Bandung, pada Sabtu (11/7).
Sebagai bagian dari upaya memperluas edukasi tersebut, PVMBG melibatkan para guru geografi, komunitas, dan masyarakat agar pengetahuan mengenai mitigasi bencana dapat diteruskan kepada para pelajar dan lingkungan sekitarnya sehingga kesadaran terhadap kebencanaan tumbuh sejak usia dini.
"Hari ini kami mengundang Bapak-Ibu para guru dengan harapan Bapak-Ibu lebih memahami, kemudian juga bisa menyampaikan kepada para murid, sehingga kesiapsiagaan dan pemahaman terhadap mitigasi bencana itu sudah mulai sampai ke level anak-anak," ujar Rita.
Selain menghadirkan berbagai kegiatan edukatif, Museum Geologi juga menyediakan Ruang Kebencanaan Geologi sebagai salah satu ruang pamer interaktif utama. Di ruang ini, pengunjung dapat mempelajari berbagai bencana geologi di Indonesia, seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, dan tanah longsor melalui maket, diorama interaktif, serta informasi mengenai rambu keselamatan dan jalur evakuasi. Pengalaman belajar tersebut semakin lengkap dengan keberadaan ruang simulasi gempa yang mengajarkan langkah penyelamatan diri saat terjadi gempa dalam lingkungan yang aman dan terkendali.
Lebih lanjut, Rita mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun masyarakat yang sadar dan tangguh terhadap bencana geologi. "Saya berharap kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga melahirkan jejaring dan kolaborasi yang lebih kuat dalam membangun masyarakat yang semakin sadar dan tangguh terhadap bencana geologi," pungkas Rita.
Bagikan Ini!