Perkuat Ketahanan Energi, Indonesia-Jerman Percepat Investasi EBT dan Jaringan Listrik

Rabu, 19 Agustus 2026 - Dibaca 171 kali

JAKARTA - Pemerintah Indonesia mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) serta menjalankan Program Mandatori Biofuel B-50 untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Di tengah risiko gejolak energi global, langkah tersebut diperkuat melalui kemitraan dengan Jerman, terutama pada investasi energi terbarukan dan modernisasi jaringan listrik.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menyampaikan langkah tersebut dalam Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW), yang menghadirkan pemimpin kedua negara, inovator, serta pakar energi global.

Menurut Yuliot, ketegangan di Timur Tengah dan gangguan pada rute transit minyak utama di Selat Hormuz dapat berdampak pada harga dan pasokan energi serta biaya logistik. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan inflasi, menambah beban fiskal APBN melalui subsidi energi, dan memengaruhi daya beli masyarakat.

Pemerintah menargetkan porsi bauran EBT sebesar 18 persen hingga 21 persen pada 2026. Indonesia tercatat memiliki potensi EBT sebesar 3.687 gigawatt (GW), terdiri atas energi surya 3.294 GW, tenaga air 95 GW, angin 155 GW, energi laut 63 GW, bioenergi 57 GW, dan panas bumi 24 GW.

Namun, Yuliot menyebut pemanfaatan potensi tersebut saat ini baru mencapai 16,278 GW atau kurang dari 0,5 persen.

"Tantangan di hadapan kita memang tidak kecil, namun dengan keahlian kolektif dan komitmen yang teguh, saya yakin kita mampu membuka peluang-peluang baru, memperkuat ketahanan energi nasional, serta memberikan kontribusi nyata bagi masa depan," ujar Yuliot.

Selain EBT, pemerintah menjalankan Program Mandatori Biofuel B-50 sejak 1 Juli 2026. Program ini diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp170 triliun, menghasilkan nilai tambah industri CPO sebesar Rp23,5 triliun, menyerap 2,1 juta tenaga kerja, serta menekan emisi gas rumah kaca sebesar 44,5 juta ton CO2.

Kerja sama dengan Jerman diarahkan untuk mendukung percepatan tersebut. Menteri Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Reem Alabali Radovan menyatakan kedua negara akan memperkuat investasi energi terbarukan, perluasan jaringan listrik, serta kemitraan dengan dunia usaha.

"Dalam beberapa tahun mendatang, kami ingin memperluas kerja sama ekonomi dengan Indonesia secara terarah dan memperkuat investasi swasta, khususnya dalam energi terbarukan dan perluasan jaringan listrik," kata Reem.

Kerja sama energi Indonesia-Jerman yang didukung BMZ dan International Climate Initiative (IKI) telah mencatat komitmen dukungan kumulatif lebih dari 2,3 miliar euro. Dukungan meliputi bantuan teknis, peningkatan kapasitas, dan investasi modal untuk mendukung target Net Zero Emission sektor energi pada 2060 serta peta jalan Just Energy Transition Partnership (JETP).

Kolaborasi ini juga meliputi perdagangan dan investasi di sektor industri hijau, penyelesaian perundingan I-EU CEPA, serta peluang investasi pada ekosistem kendaraan listrik, industri semikonduktor, pengolahan mineral penting, dan jaringan listrik pintar (smart grid).=

Penguatan kerja sama tersebut bertujuan untuk memaksimalkan pemanfaatan potensi energi dalam negeri, menjaga ketahanan energi, serta mendukung peralihan menuju sistem energi yang lebih ramah lingkungan dan rendah emisi. (SF)


Bagikan Ini!