Hadapi Gejolak Energi Global, Wamen ESDM Ungkap Jurus Jitu RI di Forum G20

Rabu, 16 September 2026 - Dibaca 250 kali

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

REPUBLIK INDONESIA

SIARAN PERS

NOMOR: 051.Pers/04/SJI/2026

Tanggal: 16 September 2026

Hadapi Gejolak Energi Global, Wamen ESDM Ungkap Jurus Jitu RI di Forum G20


HOUSTON, TEXAS - Ketahanan energi kembali menjadi perhatian dunia di tengah gangguan pasokan minyak akibat konflik geopolitik. Risiko terhadap jalur distribusi dan infrastruktur energi meningkatkan ketidakpastian pasokan serta menambah tekanan terhadap harga komoditas energi.

Kondisi ini turut menjadi perhatian serius Indonesia. Pemerintah menilai pentingnya penguatan ketahanan dan akses energi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing negara.

Pandangan tersebut menjadi bagian penting dari agenda Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot saat menghadiri G20 Energy Abundance Ministerial Meeting di Houston, Texas, Amerika Serikat pada 14-16 September 2026.

"Indonesia mendukung hak berdaulat setiap negara untuk menentukan jalur energinya berdasarkan kondisi nasionalnya. Kami terus memperkuat ketahanan energi nasional dengan tetap mendorong transisi energi yang berkeadilan menuju Net Zero Emissions pada 2060 atau lebih cepat," kata Yuliot pada Selasa (15/9) waktu setempat.??

Perkuat Pasokan
Bagi Indonesia, penguatan ketahanan energi dilakukan dengan meningkatkan produksi minyak dalam negeri. Saat ini, konsumsi BBM mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik baru sekitar 600 ribu barel per hari. Guna mengurangi ketergantungan pada impor, pemerintah menargetkan produksi minyak mencapai 1 juta barel per hari serta membuka peluang investasi di 118 wilayah kerja migas dengan skema fiskal yang menarik.

Di saat yang sama, pemerintah terus mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan serta pemanfaatan sumber daya dalam negeri sebagai bagian dari upaya diversifikasi energi. Salah satunya melalui program B50, yaitu penggunaan solar yang dicampur dengan bahan bakar nabati hingga 50 persen. Program ini diproyeksikan mampu mensubtitusi kebutuhan impor solar sebanyak 310 ribu barel per hari, menghemat hampir USD10 miliar per tahun, sekaligus membuka peluang bagi lebih dari 2 juta lapangan kerja.

"Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menjalankan program B50," tegas Yuliot.

Di sektor ketenagalistrikan, Indonesia memperkirakan permintaan listrik tumbuh sekitar 5,3 persen per tahun. Karena itu, encana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt, dengan 76 persen berasal dari energi terbarukan. Pengembangan tersebut membutuhkan investasi sekitar USD180 miliar dan membuka sekitar 73 persen kapasitas baru bagi produsen listrik independen.

Pemerintah mendorong pengembangan 100 GWp Pembangkit Listrik Tenaga Sirya untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel di sistem utama serta mengurangi penggunaan energi fosil. Sementara itu, batubara masih menjadi penopang utama pasokan listrik nasional.

"Kami telah membenahi iklim investasi di dalam negeri. Kami mempermudah prosedur berusaha," ungkap Yuliot.

Sesuai Kebutuhan
Indonesia menilai pendekatan energi tidak dapat diseragamkan. Setiap negara perlu memiliki ruang untuk memilih teknologi dan sumber energi yang sesuai dengan kondisi lokal, kemampuan masyarakat, serta prioritas pembangunan nasional.

"Indonesia menyambut baik pengakuan bahwa tidak ada kesamaan solusi untuk semua (negara) dalam clean cooking. Setiap negara harus dapat memilih teknologi yang mencerminkan kondisi lokal dan keterjangkauan. Kebijakan clean cooking harus tetap netral terhadap teknologi dan didukung oleh mekanisme pembiayaan yang mencerminkan prioritas nasional," ungkap Yuliot.

Indonesia juga mendorong agar agenda G20 ke depan tetap memberi perhatian pada transisi energi dan energi berkelanjutan. Menurut Indonesia, upaya memenuhi kebutuhan energi saat ini perlu berjalan seiring dengan pembangunan sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

"G20 harus mendorong pendekatan yang seimbang yang memajukan ketahanan energi, keterjangkauan, aksesibilitas, dan keberlanjutan. Indonesia siap bekerja sama dengan seluruh anggota untuk membangun masa depan energi global yang inklusif, berkelanjutan, dan aman," jelas Yuliot.

Group of Twenty (G20) sendiri forum kerja sama ekonomi utama dunia yang mewakili mayoritas PDB global dan perdagangan dunia. Pada tahun ini presidensi G20 adalah Amerika Serikat (AS). Dalam kepemimpinan AS ini, sektor energi tergabung dalam Energy Abundance Working Group (EAWG). (NA)

Bagikan Ini!