te

Friday, 19 July 2019 - Dibaca 1131 kali

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

REPUBLIK INDONESIA

SIARAN PERS

NOMOR: 460.Pers/04/SJI/2019

Tanggal: 19 Juli 2019

Tutup Kegiatan Temu Netizen #MenujuB30, Milenial Palembang Sambut Biodiesel Jadi Energi Masa Depan

Palembang menjadi kota penutup ajang temu Sobat Energi dalam rangkaian sosialisasi #MenujuB30 (campuran 30% biodiesel dalam bahan bakar solar yang akan diimplementasikan mulai tahun depan). Mengambil tema "Biodiesel Punya Wong Kito", kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta dari berbagai latar belakang mulai dari Pegawai Swasta, Blogger, Mahasiswa/Pelajar, Pensiunan Wartawan, Fotografer, Dokter Gigi, Fresh Graduate, PNS, Aktivis NGO, Penulis, Freelance, Kontraktor, hingga Creativepreneur.

Menggandeng Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan peningkatan edukasi warganet atas isu terkait pemanfaatan Crude Palm Oil (CPO) sebagai campuran bahan bakar ramah lingkungan B20 dan rencana implementasi B30 yang kini tengah sampai tahap uji jalan kendaraan, pada Kamis (19/7) di Palembang.

Kegiatan ini adalah puncak rangkaian acara dari edukasi penggunaan biodiesel pada kendaraan ke 3 kota besar, yakni Medan, Balikpapan dan Palembang. Sebelumnya acara telah sukses dilaksanakan di kota Medan pada tanggal 2 Juli 2019 dan Balikpapan pada tanggal 4 Juli 2019.

Biodiesel sendiri merupakan bahan bakar nabati untuk aplikasi mesin/motor diesel berupa fatty acid methyl ester/FAME yang terbuat dari minyak nabati atau lemak hewani melalui proses esterifikasi/transesterifikasi.

Pada tanggal 13 Juni 2019, Menteri ESDM Ignasius Jonan melaunching Road Test B30 untuk 3 unit truk dan 8 unit kendaraan penumpang berbahan bakar B30 yang masing-masing menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer.

B30 telah dinyatakan siap digunakan oleh mesin diesel biasa dengan sedikit atau tanpa penyesuaian. Penyesuaian dibutuhkan jika penyimpanan atau wadah biodiesel terbuat dari bahan yang sensitif dengan biodiesel seperti seal, gasket, dan perekat terutama mobil lama dan yang terbuat dari karet alam dan karet nitril. Pemanfaatan biodiesel dinilai dapat membersihkan kerak dan kotoran yang tertinggal pada mesin, saluran bahan bakar dan tangki bahan bakar karena sifatnya sebagai solvent/pelarut.

Sebelumnya, Pemerintah juga berhasil memanfaatkan penggunaan B20 untuk berbagai macam mesin diesel. Penggunaan B20 ini tergantung dengan 3 (tiga) faktor, yaitu kualitas bahan bakar (biodiesel dan solar), handling/penanganan bahan bakar dan juga kompatibilitas material terhadap bahan bakar tersebut.

c-IMG-20190719-WA0010.jpg

Kendaraan berbahan bakar B20 menghasilkan emisi CO yang lebih rendah dibandingkan kendaraan B0. Hal ini dipengaruhi oleh lebih tingginya angka cetane dan kandungan oksigen dalam B20 sehingga mendorong terjadinya pembakaran yang lebih sempurna.

Kendaraan berbahan bakar B20 juga menghasilkan emisi Total Hydrocarbon (THC) yang lebih rendah dibandingkan kendaraan B0. Hal ini disebabkan pembakaran yang lebih baik pada kendaraan B20, sehingga dapat menekan emisi THC yang dihasilkan.

Kegiatan Temu Netizen kali ini disertai kunjungan ke Refinery Unit (RU) III Plaju milik PT Pertamina (Persero) yang merupakan Green Refinery pertama di Indonesia dan menghadirkan YouTuber @BramDermawan serta Kepala Divisi Unit Penyaluran Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit Fajar Wahyudi dan Kepala Sub Direktorat Keteknikan & Lingkungan Bioenergi Kementerian ESDM Efendi Manurung. (NA)

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi

Publik, dan Kerja Sama

Agung Pribadi (08112213555)


Share This!