Pusat Data Butuh Tambahan 20 GW, Bahlil Siapkan Energi Bersih dan Hub Baru di Batam–Karimun–Bintan

Monday, 19 October 2026 - Dibaca 164 kali

DENPASAR - Setiap pesan yang dikirim, video yang ditonton, dan pertanyaan yang diajukan kepada aplikasi kecerdasan buatan diproses oleh ribuan server di pusat data yang bekerja tanpa henti. Di balik layanan digital itu, ada kebutuhan listrik yang sangat besar. Untuk Indonesia, kebutuhan tersebut diperkirakan memerlukan tambahan 20 gigawatt (GW), setara 20 persen dari total kapasitas listrik saat ini.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi (Menko Hiltrans) / Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut kesiapan pasokan energi, terutama energi bersih, menjadi kunci agar Indonesia mampu menarik investasi pusat data berskala regional. Hal itu disampaikan Bahlil dalam sambutannya pada Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Senin (19/10/2026). Menurutnya, digitalisasi merupakan instrumen industrialisasi, dan tanpa dukungan energi yang memadai, perkembangannya justru akan memunculkan persoalan baru.

"Tadi saya baru habis berbincang sama Dirut PLN, itu membutuhkan penambahan 20 GW. 20 GW ini sama dengan 20.000 MW. Itu sama dengan 20 persen dari total listrik yang existing sekarang. Ini enggak sedikit, cukup besar sekali," ujar Bahlil.

Kebutuhan itu terus meningkat seiring berkembangnya kecerdasan buatan (AI). Jika pusat data pada era komputasi awan membutuhkan daya sekitar 10-30 megawatt (MW), pusat data berbasis AI dapat membutuhkan daya 100 MW hingga 1 GW. Ketersediaan listrik, air, jaringan serat optik, dan kesiapan lokasi menjadi penentu utama realisasi investasi.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pemerintah mendorong Batam, Karimun, dan Bintan menjadi hub baru pusat data Indonesia, melengkapi hub yang sudah ada di Malaysia dan Singapura. Bahlil menilai kawasan itu memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan air, kepadatan penduduk yang lebih rendah dibanding Jawa Barat, Jakarta, atau Bali, serta peluang pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT).

"Kita akan membangun sekarang PLTS kurang lebih sekitar 100 gigawatt-peak. Dan saya punya keyakinan, teman-teman investor akan lebih suka untuk memakai data center mereka dengan memakai energi baru terbarukan. Dan ini sebuah peluang bisnis," kata Bahlil.

Peluang itu mulai terlihat di Batam. Kapasitas pusat data yang telah tersedia, berkomitmen, dan dalam tahap pengembangan di kota tersebut mencapai 1,47 GW. Selain itu, PLN Batam dan DayOne telah meneken kontrak pasokan listrik sebesar 450 MW, kontrak terbesar untuk pusat data di Indonesia.

Dari sisi pasokan, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034 menargetkan tambahan kapasitas pembangkit 69,5 GW. Dari jumlah itu, 42,6 GW berasal dari EBT, 10,3 GW berupa sistem penyimpanan energi, dan 16,6 GW dari pembangkit fosil, dengan potensi investasi Rp2.967,4 triliun. Pengembangan PLTS 100 GWp juga mencakup PLTS skala besar, terapung, atap, dan kawasan industri.

Bahlil menambahkan, pemerintah akan meminta data rencana lokasi dari calon investor pusat data agar pasokan energinya bisa disiapkan langsung. Ia juga tengah menyiapkan aturan agar investor menggandeng pengusaha nasional dan daerah.

"Kita harus sharing dengan pengusaha lokal. Jangan juga semuanya dikerjain oleh mereka sendiri," tegasnya.

Dengan pasokan energi yang andal, kompetitif, dan semakin bersih, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga pusat investasi digital yang memberi manfaat bagi pengusaha dan masyarakat di daerah. (ARN)

Share This!