Kementerian ESDM Akselerasi Proyek PLTSa, Benowo Jadi Model Pengolahan Sampah Jadi Energi

Thursday, 16 April 2026 - Dibaca 144 kali

SURABAYA - Gunungan sampah yang kian mengkhawatirkan mulai menjadi ancaman nyata di berbagai daerah. Tempat pembuangan akhir (TPA) makin penuh, sementara volume sampah terus bertambah setiap hari. Pemerintah pun memproyeksikan hampir seluruh TPA di Indonesia akan mengalami kelebihan kapasitas paling lambat pada 2028 jika tidak ada terobosan signifikan.

Menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong percepatan pengembangan waste to energy (WtE) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebagai salah satu solusi atas krisis sampah dan energi. Pemerintah menargetkan pembangunan 34 proyek di 34 kota pada periode 2026-2027.

"Pengelolaan sampah perkotaan merupakan kegiatan prioritas yang mendapat pantauan langsung Bapak Presiden Prabowo. Karena itu, diperlukan upaya yang serius dan sistematis agar sampah perkotaan tidak lagi menjadi sumber masalah, melainkan justru memberi manfaat," ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot seusai meninjau PT Sumber Organik yang membangun dan mengoperasikan Pembangkit Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Benowo, Surabaya, Rabu (15/4).

Yuliot menambahkan, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 sebagai payung hukum untuk mempercepat penanganan sampah perkotaan melalui pengolahan sampah menjadi energi terbarukan berbasis teknologi ramah lingkungan.

Dalam arahannya pada Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026, Presiden Prabowo juga menegaskan rencana peluncuran Gerakan Indonesia ASRI, yang merupakan singkatan dari aman, sehat, resik, dan indah. Gerakan ini akan menjadi langkah nasional untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan tertata.

Presiden menilai persoalan sampah sudah menjadi masalah krusial di banyak daerah. Ia menyebut hampir seluruh TPA di Indonesia diproyeksikan mengalami overkapasitas pada 2028, bahkan bisa lebih cepat.

"Persoalan sampah ini menjadi masalah. Diproyeksikan hampir semua TPA sampah akan mengalami overcapacity pada tahun 2028, bahkan lebih cepat," kata Prabowo.

Di lokasi yang sama, Direktur Utama PT Sumber Organik Agus Nugroho Santoso menjelaskan bahwa pihaknya mengelola sampah dari masyarakat Surabaya dan sekitarnya dengan volume 1.600 ton/hari. Berbeda dengan pengelolaan di banyak tempat lain yang hanya menangani sampah baru, PT Sumber Organik juga mengolah timbunan sampah lama agar dapat dimanfaatkan kembali.

"Kami mengolah timbunan sampah, baik sampah lama maupun baru, menjadi bahan yang bermanfaat," ujar Agus.

PT Sumber Organik diketahui telah membangun dan mengoperasikan Pembangkit Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Benowo, Surabaya, yang diresmikan Presiden Republik Indonesia pada 6 Mei 2021.

Selain mengolah sampah menjadi listrik, saat ini di TPA Benowo juga tengah dibangun fasilitas waste to fuel oleh PT Prakarsa Energi Sejahtera (SEP). Fasilitas ini ditujukan untuk mengurangi timbunan sampah dan direncanakan segera beroperasi.

Proses pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar dilakukan melalui tahapan penyortiran atau handpicking untuk memastikan bahan baku pirolisis berupa plastik. Setelah itu, plastik diproses menggunakan mesin pirolisis (teknologi pemanasan) dengan menggunakan metode flue gas treatment system agar memenuhi baku mutu emisi yang sudah ditetapkan Kementerian Lingkungan untuk menghasilkan Bahan Bakar Minyak Terbarukan (BBMT) setara diesel oil.

Saat ini pabrik pengolahan waste to fuel masih dalam proses konstruksi, setelah selesai dan beroperasi nanti pabrik dapat mengolah sampah menjadi BBMT dengan besaran kapasitas sampah kota yang dapat disesuaikan dengan volume sampah kota yang mendesak untuk dilakukan pengolahan. Berdasarkan pilot project yang sudah dilakukan dari proses yang ada akan didapat produksi BBMT sebesar 60-70 kiloliter per hari.

Share This!